Telah Dibaca 492
SIAK – Angka proyek di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Siak tahun 2024 terbilang mencengangkan.
Berdasarkan data Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan (SiRUP) ULP, tercatat sebanyak 6.382 paket proyek diluncurkan dalam satu tahun anggaran.
Dari ribuan paket tersebut, nilai anggaran yang digelontorkan mencapai lebih dari Rp1 triliun, di luar belanja gaji Aparatur Sipil Negara (ASN).
Namun di balik besarnya angka itu, muncul pertanyaan serius: ke mana arah belanja daerah sebenarnya?Pasalnya, dari total ribuan proyek tersebut, hampir 50 persen didominasi kegiatan pengadaan barang dan jasa, sementara proyek fisik yang berdampak langsung ke masyarakat justru sangat minim.
“Kalau dilihat, proyek fisik itu bisa dihitung dengan jari. Selebihnya pengadaan. Ini jadi tanda tanya besar,” ungkap seorang rekanan kontraktor kepada media, Senin (21/4/2024).
Ia menyebut, kondisi ini tidak lazim jika dibandingkan dengan daerah lain. Bahkan, berdasarkan data yang beredar, Kabupaten Siak disebut sebagai daerah dengan jumlah paket proyek terbanyak di Indonesia pada tahun 2024.
“Jumlahnya luar biasa banyak. Tapi efeknya ke lapangan tidak sebanding. Ini seperti program ‘cuci gudang’ kegiatan,” tambahnya.
Ironisnya, banyaknya paket proyek tersebut tidak diiringi dengan geliat pembangunan fisik yang signifikan. Hal ini memicu dugaan bahwa sebagian besar kegiatan hanya bersifat administratif atau pengadaan rutin yang dipecah menjadi paket-paket kecil.
Jika kondisi ini benar, maka publik patut mempertanyakan efektivitas penggunaan APBD yang mencapai triliunan rupiah tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan resmi dari pihak terkait di Pemkab Siak mengenai komposisi proyek yang didominasi pengadaan serta minimnya kegiatan fisik di lapangan.(MN2)