Sebuah perjalanan hidup anak kampung dari Merempan Hulu yang kini bisa berdiri di hari wisuda—rasanya seperti mimpi.
Namaku Irman Dianto. Aku hanyalah seorang krani kampung. Dulu, aku hanya lulusan SD tahun 1993 di SDN 043.
Bertahun-tahun kemudian, aku melanjutkan pendidikan lewat kejar paket—SMP dan SMA yang kuselesaikan di SD 007 pada tahun 2011.
Setiap kali mendengar cerita teman-teman tentang sekolah mereka, jujur aku merasa minder. Malu. Tak ada yang bisa kubanggakan dari diriku saat itu.
Tapi satu hal yang selalu membuatku kuat: aku bangga bisa membantu orang tua menyekolahkan adik-adikku, dari Siak hingga ke Pekanbaru, meski kami hidup dalam keterbatasan.
Tahun 2007 menjadi titik balik hidupku. Aku dipertemukan dengan sosok luar biasa, Pak Kades Sumarlan. Tanpa ragu, beliau mengajakku bekerja di kantor desa sebagai staf dengan gaji Rp250 ribu per bulan.
Aku sempat berkata,“Pak, saya hanya tamat SD. Mana bisa kerja di kantor?”Beliau hanya menjawab,“Sabar. Nanti ada sekolah paket. Kamu ikut, ya.”
Sejak saat itu, hidupku mulai berubah. Aku diberi kesempatan, bahkan diberi baju dinas pertama dalam hidupku.
Banyak hal beliau ajarkan—yang sampai hari ini masih kupegang. Terima kasih, Pak. Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan Bapak dengan keberkahan, kesehatan, dan umur panjang. Aamiin.
Perjalanan hidupku semakin lengkap ketika aku dipertemukan dengan istriku tercinta. Dialah sosok yang terus mendorongku untuk berubah, dari anak kampung menjadi pribadi yang lebih baik.
Suatu hari ia berkata,“Daftar saja kuliah, Pa. Kasihan ijazah paketmu selalu dicemooh orang. Kita jalani saja, rezeki pasti ada.”
Kalimat sederhana itu mengubah hidupku.Akhirnya aku memberanikan diri kuliah di Universitas Lancang Kuning (Unilak).
Perjalanannya tidak mudah—penuh tantangan, lelah, dan hampir menyerah. Tapi setiap kali aku jatuh, istriku yang menguatkan.Dan pada 29 April, aku sampai di titik itu—hari wisuda.
Hari ini orang melihat toga dan ijazah di tanganku. Tapi yang tidak mereka lihat adalah sosok luar biasa yang selalu berdiri di sampingku—istriku.
Dari awal kuliah hingga wisuda, hanya dia yang selalu ada. Saat orang lain didampingi keluarga besar, aku hanya ditemani olehnya. Tapi justru di situlah kekuatanku.Gelar S.A.P. ini bukan hanya milikku.Setengahnya adalah milikmu, istriku.
Karena setiap tugas yang kukerjakan, ada campur tanganmu.Setiap kali aku ingin menyerah, kamulah yang membuatku bertahan.
Terima kasih, sayang.Aku berjanji akan selalu menjagamu, mendampingimu, hingga akhir hayatku.Perjalanan ini bukan sekadar tentang gelar.
Ini tentang perjuangan, tentang kesempatan, dan tentang cinta yang tidak pernah menyerah.