INTERNET SEHAT

INTERNET SEHAT

Wakili Plt Gubernur Riau, Kadis Pariwisata Tegaskan: Jangan Biarkan Sejarah Marhum Pekan Hanya Jadi Seremoni.

Pekanbaru – Pemerintah Provinsi Riau melalui Kepala Dinas Pariwisata, Tekat Perbatasan, yang mewakili Plt Gubernur Riau Ir. H. SF Hariyanto, M.T, menghadiri Pagelaran Drama Musikal dan Peluncuran Lagu “Marhum Pekan” di Gedung LAMR Kota Pekanbaru.

Namun lebih dari sekadar menghadiri acara, kehadiran Pemprov Riau kali ini membawa pesan tegas: sejarah dan budaya Melayu tidak boleh berhenti sebagai tontonan seremonial.

Dalam sambutannya, Tekat Perbatasan menegaskan bahwa sosok Marhum Pekan adalah fondasi penting berdirinya Kota Pekanbaru—bukan sekadar cerita lama yang diulang tanpa makna.

“Marhum Pekan adalah bagian dari akar berdirinya Pekanbaru. Dari perjuangan dan kepemimpinannya, lahir kawasan yang hari ini menjadi pusat kehidupan masyarakat. Ini bukan cerita biasa—ini identitas,” tegasnya.

Pagelaran drama musikal dan peluncuran lagu dinilai sebagai langkah konkret menghidupkan kembali sejarah yang selama ini berisiko hanya menjadi catatan tanpa ruh.

“Melalui drama musikal, sejarah kita hidupkan. Melalui lagu, nilai-nilainya kita abadikan. Ini bukan sekadar seni, ini perlawanan terhadap lupa,” ujarnya lugas.

Dalam konteks pembangunan daerah, Tekat juga menyinggung arah besar Riau dalam RPJMD 2025–2029 yang menempatkan budaya Melayu sebagai pilar utama. Namun ia tidak menutup mata bahwa implementasinya masih jauh dari harapan.

“Kita bicara budaya Melayu, tapi pengamalannya belum optimal. Ini fakta yang harus kita akui. Karena itu, kegiatan seperti ini bukan pelengkap—melainkan kebutuhan,” katanya.

Ia mengingatkan bahwa kemajuan tanpa akar budaya hanya akan melahirkan generasi yang kehilangan jati diri.

Mengutip tunjuk ajar Melayu, ia menegaskan: “Adat dijunjung, syarak dipelihara, budaya disemai, negeri terjaga.”

“Maknanya jelas—pembangunan tidak boleh mencabut identitas.

 Kalau budaya ditinggalkan, kita hanya jadi penonton di negeri sendiri,” tambahnya.

Lebih jauh, Pemprov Riau juga mendorong langkah strategis dengan mengusulkan Marhum Pekan untuk mendapatkan pengakuan di tingkat nasional. Namun, ia menegaskan bahwa upaya tersebut tidak boleh setengah hati.

“Pengakuan nasional tidak datang dari seremoni, tapi dari keseriusan menyiapkan data, kajian, dan komitmen bersama,” tegasnya.

Kegiatan ini pun diproyeksikan tidak berhenti sebagai agenda sesaat. Pemprov Riau membuka peluang besar agar event ini naik kelas menjadi agenda budaya tahunan, bahkan menembus skala nasional dan serumpun Melayu internasional.

“Ini harus jadi gerakan berkelanjutan. Bukan hanya acara hari ini, tapi menjadi denyut budaya yang terus hidup,” ujarnya.

Di akhir, Tekat Perbatasan menegaskan bahwa drama musikal dan lagu “Marhum Pekan” harus menjadi alarm kolektif bagi masyarakat dan pemerintah.

“Sejarah tidak boleh hanya dikenang, tapi harus dihidupkan. Jika tidak, kita sendiri yang akan kehilangan arah,” tutupnya.(MN2)