Telah Dibaca 326
SIAK – Skandal pengamanan di RSUD Tengku Rafian kian memantik kemarahan publik. Bagian depan dijaga ketat, namun bagian belakang justru jebol dan menjadi pintu masuk pencuri. Lebih memprihatinkan lagi, Direktur RSUD Siak terkesan bungkam dan sulit dikonfirmasi.
Peristiwa pencurian terjadi di area penumpukan aset rusak berat di belakang rumah sakit.
Dari rekaman CCTV, terlihat jelas sejumlah pelaku—diduga empat orang, termasuk perempuan—leluasa masuk melalui pagar belakang dan mengangkut barang-barang tanpa hambatan berarti.
Kejadian yang diperkirakan berlangsung pada Minggu, 5 April 2026 itu baru disadari empat hari kemudian, tepatnya 9 April 2026. Fakta ini memperkuat dugaan lemahnya sistem pengawasan internal.
Ironisnya, saat awak media berupaya mengonfirmasi kejadian tersebut, Direktur RSUD Siak justru memilih diam. Pesan yang dikirim tidak dibalas, seolah alergi terhadap kontrol publik dan transparansi.Sikap ini langsung menuai kecaman. ..Di tengah kasus pencurian dan berbagai persoalan internal, publik menilai pimpinan rumah sakit gagal menunjukkan tanggung jawab moral maupun profesional…
“Ini bukan sekadar pencurian, tapi cerminan buruknya manajemen. Pengamanan lemah, pengawasan lalai, dan pimpinan malah bungkam,” ujar salah satu sumber dengan nada geram.
Tak hanya soal pencurian, sorotan juga mengarah pada berbagai persoalan lain yang dinilai mencerminkan lemahnya kepemimpinan di tubuh RSUD, mulai dari isu pelayanan hingga keberadaan dokter spesialis..
Publik kini mendesak Afni Zulkifli untuk tidak tinggal diam. Evaluasi total hingga pencopotan Direktur RSUD dianggap sebagai langkah tegas yang harus segera diambil.
“Kalau dengan media saja tidak mau terbuka, bagaimana masyarakat bisa berharap pelayanan yang baik? Jangan tunggu masalah makin besar,” tegasnya.
Sementara itu, pihak RSUD hanya menyampaikan bahwa kasus pencurian telah dilaporkan ke kepolisian dan masih dalam proses penyelidikan.
Namun hingga kini, belum ada penjelasan resmi dari direktur terkait kronologi, kerugian, maupun langkah perbaikan sistem keamanan.
Kondisi ini semakin memperkuat persepsi publik: ada yang tidak beres di balik pengelolaan RSUD Tengku Rafian.
Jika dibiarkan, bukan hanya aset yang hilang—kepercayaan masyarakat pun bisa ikut lenyap.(MN2)