Siak – Suasana haru menyelimuti SMP Sains Tahfizh Islamic Center Siak, Jumat (10/4/2026).
Lantunan ayat suci Al-Qur’an dan doa yang dipanjatkan bersama menjadi saksi betapa dalamnya luka yang masih dirasakan pasca kepergian Muhammad Aqil Alrizal.
Di tengah duka itu, Bupati Siak Afni Zulkifli hadir, tidak sekadar sebagai pemimpin daerah, tetapi sebagai seorang ibu yang datang membawa empati, kekuatan, dan harapan bagi anak-anak yang masih diliputi trauma.
Dengan suara bergetar, ia menyampaikan duka mendalam atas kepergian Aqil—sosok pelajar yang kini tinggal kenangan. “Ini bukan hanya kehilangan bagi keluarga, tetapi juga kehilangan bagi kita semua. Anak kita, murid kita, bagian dari masa depan Siak,” ucapnya lirih.
Doa dan pembacaan Yasin yang digelar bukan sekadar seremoni. Lebih dari itu, menjadi ruang bersama untuk menguatkan hati, menenangkan jiwa, dan merajut kembali semangat yang sempat runtuh akibat musibah. Pemerintah Kabupaten Siak pun menginstruksikan kegiatan serupa dilaksanakan di seluruh sekolah sebagai bentuk kepedulian dan refleksi bersama.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Afni juga mengingatkan pentingnya kebersamaan dalam melewati masa sulit. Ia meminta para guru tetap tegar mendampingi siswa, serta mengajak seluruh pihak untuk tidak saling menyalahkan, melainkan menjadikan peristiwa ini sebagai pelajaran berharga.
“Kami hadir di sini untuk menguatkan. Jangan biarkan kesedihan ini dipendam sendiri. Kita lalui bersama, kita bangkit bersama,” pesannya, disambut isak haru para siswa dan majelis guru.
Sebagai bentuk nyata kepedulian, Pemerintah Kabupaten Siak melalui dinas terkait telah menyiapkan pendampingan psikologis bagi siswa dan guru.
Langkah ini diharapkan mampu memulihkan kondisi mental anak-anak agar dapat kembali menjalani aktivitas belajar dengan tenang dan percaya diri.
Sementara itu, Kapolres Siak Sepuh Ade Irsyam Siregar turut hadir dan memberikan penegasan bahwa penanganan peristiwa ini tidak hanya berfokus pada aspek hukum, tetapi juga pada pemulihan kemanusiaan.
“Kami ingin anak-anak merasa aman kembali. Trauma ini harus kita pulihkan bersama, dengan pendekatan yang humanis,” ujarnya.
Di penghujung kegiatan, doa-doa kembali dipanjatkan. Tangis pecah di antara para siswa yang masih sulit melupakan kejadian itu. Namun di balik kesedihan, perlahan tumbuh harapan—bahwa luka ini, meski dalam, akan sembuh seiring waktu, dengan kebersamaan dan kepedulian semua pihak.
Momen ini menjadi pengingat, bahwa di balik setiap musibah, selalu ada kekuatan yang lahir dari kebersamaan.
Dan di Islamic Center Siak hari itu, kekuatan itu hadir—dalam doa, dalam air mata, dan dalam kepedulian yang tulus.(MN2)