INTERNET SEHAT

INTERNET SEHAT

Mengapa Siak Itu Istimewa? 

METRONEWS2 -Siak bukan sekadar nama sebuah kabupaten di Riau. Ia adalah jejak panjang peradaban Melayu yang membentang dari abad ke-18 hingga kini, menyimpan warisan sejarah, budaya, dan politik yang tak ternilai.

Bagi masyarakat Indonesia, Malaysia, Brunei, hingga Singapura, nama Siak menyimpan identitas bersama—karena di sinilah salah satu pusat besar Dunia Melayu pernah berdiri.

Mari kita lihat, mengapa Siak itu istimewa:

1. Imperium Besar di Alam Melayu

Kesultanan Siak Sri Indrapura lahir pada awal abad ke-18. Dari hulu hingga pesisir, dari pedalaman Riau hingga Selat Malaka, nama Siak bergema sebagai salah satu kesultanan paling berpengaruh dalam sejarah Melayu.

Tidak hanya menguasai daratan, tetapi juga jaringan dagang, budaya, hingga politik di kawasan.

2. Raja Kecik dan Tapal Batas Pertama

Pendiri Kesultanan Siak adalah Raja Kecik (Sultan Siak I). Beliau bukan tokoh sembarangan. Ia dikenal sebagai sosok yang membuat tapal batas pertama antara Kesultanan Siak dan Kesultanan Johor-Riau-Lingga-Pahang, yang dipimpin oleh iparnya. Langkah ini menjadi tonggak sejarah politik perbatasan di dunia Melayu, menandai peran Siak sebagai penentu arah kawasan.

3. 12 Jajahan Takluk di Masa Kejayaan: Di bawah kepemimpinan Sultan Syarif Ali (Sultan ke-7), Kesultanan Siak mencapai kejayaan besar. Bayangkan, 12 negeri berada di bawah takluknya. Dari Kampar hingga Rokan, dari pesisir hingga pedalaman, Siak menjadi simbol kekuatan dan wibawa di seluruh Sumatera bagian tengah.

4. Hukum Tertulis: Baabul Qawaid

Pada masa Sultan Syarif Hasyim (Sultan ke-11), Kesultanan Siak menunjukkan bahwa ia tidak hanya kuat secara politik, tapi juga modern dalam tata kelola. Disusunlah sebuah kitab undang-undang tertulis, Baabul Qawaid, yang mengatur pemerintahan, hukum adat, hingga tata sosial masyarakat. Ini menjadikan Siak sebagai salah satu kerajaan Melayu yang lebih maju dibandingkan zamannya.

5. Sumbangan Besar untuk Republik Indonesia. Siak juga memiliki peran penting dalam lahirnya Republik. Sultan Syarif Qasim II, Sultan terakhir Siak, memberikan sumbangan 13 juta gulden kepada Indonesia yang baru merdeka. Jumlah itu setara dengan triliunan rupiah hari ini—bukti nyata bahwa Kesultanan Siak menaruh harapan besar pada masa depan Indonesia.

6. Pekanbaru: Kota Warisan Siak.

Kota Pekanbaru, yang kini menjadi ibukota Provinsi Riau, didirikan oleh Sultan Siak ke-4, Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah (Marhum Bukit, 1766–1780). Pekanbaru merupakan salah satu dari 10 negeri di bawah Kesultanan Siak Sri Indrapura sebagaimana termaktub dalam Baabul Qawaid, dan dipimpin oleh seorang Datuk Bandar.

7. Permaisuri dan Pendidikan

Para permaisuri Kesultanan Siak berperan penting dalam perkembangan pendidikan, terutama bagi perempuan. Mereka turut mendorong tradisi literasi, pendidikan agama, dan pembelajaran adat istiadat bagi generasi muda.

8. Kekayaan Sumber Daya Alam

Wilayah Kesultanan Siak dikenal kaya akan sumber daya alam, mulai dari hasil bumi, rempah, hutan, hingga sungai besar yang menjadi jalur perdagangan internasional. Inilah salah satu alasan Siak mampu membangun imperium yang kuat dan disegani.

9. Nama Riau dan Siak

Seyogyanya, nama Riau lebih identik dengan Kesultanan Riau-Lingga, sementara Siak memiliki jejak istimewa sendiri yang tak kalah penting. Dari tapal batas, hukum, kekuasaan, hingga sumbangan untuk republik—Siak berdiri sebagai identitas Melayu yang kokoh.

Itulah Kenapa Siak Itu Istimewa

Siak adalah warisan bersama yang harus terus dijaga. Bukan hanya bagi masyarakat Riau, tetapi juga seluruh Dunia Melayu—dari Indonesia, Malaysia, Brunei, hingga Singapura. Sejarah ini bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi cermin bagi generasi masa depan. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak lupa pada akar sejarahnya.

Maka, sangat wajar jika mahkota Sultan Siak dibawa ke Pekanbaru, karena kota ini memang bagian dari negeri Kesultanan Siak. Namun, akan lebih molek bila dibawa balek ke tempat yang paling tepat dan berakar.

Ditulis oleh:

Ir. Azizon Nurza, SPi, MM, MIPR, CPM – Profesional Indonesia asal Siak, waris Daeng Lajak, Datuk Bandar Sungai Bayam – Kerajaan Siak Sri Indrapura