Siak – Jabatan boleh tinggi, kesibukan boleh tak pernah berhenti, namun bagi Bupati Siak, Afni, ada satu tempat yang selalu membuatnya kembali menjadi seorang anak: di sisi ibunya.
Pagi itu, usai melepas keberangkatan Kafilah MTQ Kabupaten Siak menuju ajang MTQ Tingkat Provinsi Riau, Afni tidak langsung kembali disibukkan dengan urusan pemerintahan. Di tengah padatnya agenda sebagai kepala daerah, ia memilih menghabiskan waktu bersama sosok yang telah melahirkannya.
Dengan penuh kasih sayang, Afni tampak mendorong kursi roda sang emak menyusuri kawasan Turap Kampung Rempak untuk menikmati udara pagi.
Tidak ada protokoler yang berlebihan, tidak ada jarak antara seorang bupati dan ibunya. Yang terlihat hanyalah seorang anak yang sedang mengabdikan diri kepada orang tua yang telah membesarkannya dengan penuh pengorbanan.
Pemandangan itu menyentuh hati warga yang melihatnya. Di saat banyak orang mengejar kesuksesan hingga lupa pulang kepada orang tua, Afni justru menunjukkan bahwa setinggi apa pun jabatan seseorang, ia tetaplah anak dari seorang ibu yang doanya tidak pernah putus.
Langkah pelan kursi roda yang didorongnya seakan menjadi gambaran perjalanan hidup.
Dahulu sang ibu yang menuntun langkah kecilnya, menjaga, mendidik dan menguatkannya dalam setiap keadaan. Kini, ketika usia sang ibu tak lagi muda, giliran sang anak yang menggenggam tanggung jawab untuk merawat dan membahagiakannya.
Bagi masyarakat Melayu, berbakti kepada orang tua bukan sekadar kewajiban, tetapi kehormatan. Doa seorang ibu diyakini menjadi penopang utama kesuksesan seorang anak.
Mungkin karena itulah, di tengah beratnya memimpin Kabupaten Siak, Afni tetap menyempatkan diri berada di sisi ibunya, mencari keberkahan dari ridho yang tidak bisa dibeli oleh jabatan maupun kekuasaan.
Momen sederhana itu menyampaikan pesan yang kuat kepada masyarakat, khususnya generasi muda. Bahwa keberhasilan bukan hanya tentang apa yang diraih di dunia, tetapi juga tentang bagaimana seseorang memuliakan orang tuanya.
Di balik berbagai keputusan besar yang harus diambil sebagai pemimpin daerah, ada seorang ibu yang terus mengangkat tangan dalam doa. Dan di balik sosok bupati yang memimpin ribuan masyarakat, ada seorang anak yang masih ingin membahagiakan emaknya.
Pagi di Turap Kampung Rempak itu bukan sekadar perjalanan mencari udara segar. Ia adalah gambaran cinta yang tak pernah selesai antara seorang ibu dan anaknya. Cinta yang mengajarkan bahwa pengabdian terbesar seorang pemimpin sering kali dimulai dari rumahnya sendiri, dari baktinya kepada orang tua yang telah mengorbankan segalanya demi masa depannya.(Penulis Fendi)