SIAK – Tokoh masyarakat Siak, Farizal, mengutarakan sejumlah kritik dan sorotan terhadap kondisi serta kinerja PT Bumi Siak Pusako (PT BSP). Salah satu yang menjadi perhatian adalah sistem pengangkutan minyak yang menurutnya masih dilakukan secara tradisional menggunakan truk tangki di tengah perkembangan teknologi yang semakin maju.
Farizal menilai kondisi tersebut perlu segera dibenahi karena biaya pengangkutan minyak menggunakan truk tangki dinilai sangat tinggi dan berpotensi menggerus keuntungan perusahaan.
“Perusahaan minyak masih mengangkut minyak secara tradisional di masa serba canggih seperti sekarang. Kita harus mencari solusi yang lebih efisien,” ujar Farizal.
Ia juga menyoroti persoalan infrastruktur pipa PT BSP yang disebutnya sudah mengalami penuaan. Menurut Farizal, diperlukan mitra nasional maupun investor yang memiliki kemampuan finansial dan teknologi untuk membantu melakukan peremajaan jaringan pipa.
Farizal mengatakan, persoalan permodalan menjadi salah satu tantangan PT BSP dalam melanjutkan kewajiban yang berkaitan dengan perjanjian KKP. Karena itu, menurutnya, perusahaan perlu menggandeng investor yang bonafide melalui skema kerja sama yang tepat, termasuk kerja sama operasi (KSO) berbasis teknologi.
“Kalau PT BSP tidak memiliki cash capital yang cukup untuk melanjutkan isi perjanjian KKP, solusinya harus menggandeng investor yang bonafide. Bisa melalui kerja sama KSO teknologi dan mencari mitra nasional untuk peremajaan pipa yang sudah usang,” katanya.
Menurut Farizal, pembenahan tersebut menjadi penting mengingat PT BSP disebut telah menerima dua kali surat peringatan dan masa kontrak yang menjadi perhatian perusahaan akan jatuh tempo pada Agustus 2027.
“Waktu yang tersisa tidak panjang. Jangan sampai persoalan infrastruktur dan permodalan justru membuat PT BSP semakin terbebani,” ujarnya.
Di sisi lain, Farizal turut menyoroti kemunculan billboard bergambar Direktur Utama PT BSP di pusat keramaian Kota Siak. Ia menilai pemasangan billboard tersebut merupakan langkah yang berani dan berbeda dibandingkan direksi BUMD Kabupaten Siak sebelumnya.
Menurut Farizal, tampilnya Dirut PT BSP di ruang publik dapat dimaknai sebagai bentuk keberanian untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa manajemen baru siap menghadapi berbagai persoalan yang sedang membebani perusahaan.
“Ini luar biasa berani. Beliau sedang menunjukkan jati diri sebagai jawaban atas keresahan masyarakat Kabupaten Siak terhadap kondisi PT BSP,” kata Farizal.
Ia mengibaratkan kondisi PT BSP saat ini seperti orang sakit yang masih menjalani perawatan intensif dan belum dapat dipindahkan ke ruangan biasa. Karena itu, menurutnya, dibutuhkan langkah konkret, bukan hanya pencitraan atau komunikasi publik.
Farizal berharap kemunculan Dirut PT BSP di billboard tersebut benar-benar diikuti dengan pembenahan perusahaan, mulai dari penguatan modal, pencarian investor, peremajaan pipa, efisiensi biaya pengangkutan minyak hingga penyelesaian berbagai persoalan strategis perusahaan.
“Kalau ini menjadi isyarat kepada masyarakat bahwa Dirut PT BSP akan mampu menjawab dan mengatasi keresahan masyarakat terhadap kondisi PT BSP, mari kita tunggu pembuktiannya melalui kinerja nyata. Insyaallah, mari kita doakan bersama,” tutup Farizal. (MN2)