INTERNET SEHAT

INTERNET SEHAT

Tangis Haru Pecah di Dusun Mungkal, Anak Muallaf Suku Rawa Ingin Mondok Langsung Diangkat Jadi Anak Asuh Bupati Siak.

Siak — Di balik sunyinya wilayah 3T Dusun Mungkal, Kecamatan Sungai Apit, tersimpan kisah pilu yang mengguncang hati banyak orang.

Seorang ibu muallaf dari Suku Rawa Mungkal, dengan wajah penuh harap dan mata berkaca-kaca, rela menunggu hingga acara penyerahan seragam sekolah gratis selesai hanya demi satu permintaan sederhana kepada Bupati Siak: menyelamatkan masa depan anaknya.

Bukan meminta uang.

Bukan meminta rumah.

Apalagi jabatan.

Ia hanya ingin anaknya bisa masuk pesantren.

Di tengah himpitan kemiskinan dan keterbatasan hidup masyarakat pedalaman, sang ibu mengaku tak sanggup membiayai pendidikan agama anaknya. 

Namun di balik keterbatasan itu, tersimpan tekad besar seorang anak muallaf yang ingin memperdalam ilmu agama dan mengubah nasib keluarganya.

Suasana mendadak hening saat kisah itu disampaikan.

Bocah dari pedalaman Suku Rawa itu berdiri malu-malu di samping ibunya. Tatapannya sederhana, tetapi menyimpan mimpi besar: ingin menjadi anak pesantren.

Mendengar hal itu, hati Bupati Siak tersentuh.

Tanpa banyak bicara, Bupati langsung menyatakan siap mengangkat anak tersebut menjadi anak asuh dan membantu pendidikan pesantrennya.

Keputusan spontan itu sontak membuat warga terharu. Beberapa yang hadir bahkan tak kuasa menahan air mata melihat perjuangan seorang ibu muallaf yang hanya berharap anaknya mendapat pendidikan agama yang layak.

“Selagi ada niat baik anak-anak seperti ini untuk belajar agama, InsyaAllah akan Allah bukakan jalan. Ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tapi tanggung jawab kita semua,” ujar Bupati Siak dengan suara bergetar.

Kisah ini menjadi tamparan keras bagi banyak pihak bahwa di pelosok Kabupaten Siak masih ada anak-anak pedalaman yang harus berjuang keras hanya untuk bisa sekolah agama.

Di tengah gemerlap pembangunan dan besarnya anggaran pendidikan, masih ada keluarga suku asli yang hidup dalam keterbatasan, namun memiliki semangat luar biasa untuk memperjuangkan masa depan anaknya.

Dusun Mungkal hari itu bukan hanya menjadi lokasi pembagian seragam gratis.

Tetapi menjadi saksi lahirnya harapan baru bagi seorang anak pedalaman yang ingin menggapai cahaya ilmu dari pesantren.