Siak – Pemandangan tak biasa terjadi di Siak Sri Indrapura, Jumat pagi (10/4/2026). Sekretaris Daerah Kabupaten Siak, Mahadar, tak hanya memberi arahan dalam aksi gotong royong massal—ia justru menjadi orang pertama yang turun langsung ke dalam got.
Dengan tangan sendiri, Mahadar mengangkat tumpukan sampah plastik yang menyumbat drainase di sekitar Masjid Islamic Center Siak. Tanpa ragu, tanpa canggung. Aksi itu sontak menyedot perhatian ratusan hingga ribuan ASN yang hadir.
Apa yang terjadi berikutnya? ASN yang semula berdiri di pinggir jalan, langsung ikut turun. Got yang kotor berubah menjadi medan gotong royong massal.
Momen itu menjadi simbol kuat: pemimpin bukan hanya memberi perintah, tetapi memberi contoh.
“Kalau kita ingin masyarakat peduli kebersihan, ASN harus lebih dulu turun tangan. Bukan sekadar menyuruh,” tegas Mahadar di sela kegiatan.
Aksi “turun ke got” ini bukan sekadar spontanitas. Ini adalah pesan keras bahwa budaya bersih harus dimulai dari dalam birokrasi. Mahadar ingin memastikan ASN tidak hanya hadir secara administratif, tetapi benar-benar terlibat secara fisik.
Kegiatan goro massal ini dipusatkan di kawasan Masjid Islamic Center hingga bawah Jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah. Setiap dinas telah dibagi wilayah kerja, namun kehadiran Sekda di dalam drainase menjadi pemicu semangat yang sulit diabaikan.
Lebih jauh, kegiatan ini juga merupakan bagian dari dukungan terhadap Gerakan Indonesia Aman, Sehat, Rapi, dan Indah (ASRI) yang digaungkan Presiden Prabowo Subianto.
Namun pesan terpenting hari itu bukan sekadar program nasional. Ada sindiran halus di balik aksi nyata tersebut: jangan sampai ASN hanya aktif di atas kertas, tapi abai di lapangan.
Siak sendiri pernah meraih penghargaan Adipura tahun 2023 sebagai kota kecil terbersih. Tapi bagi Mahadar, prestasi itu tidak ada artinya jika tidak dijaga dengan tindakan nyata.
“Penghargaan bisa diraih, tapi menjaga itu yang sulit. Dan itu harus dimulai dari kita semua,” ujarnya.
Aksi Sekda turun ke got hari itu bukan sekadar bersih-bersih. Itu adalah peringatan—bahwa perubahan tidak lahir dari meja rapat, tapi dari keberanian untuk turun langsung ke lapangan, bahkan jika harus kotor sekalipun.(MN2)