Siak – Ironi terlihat jelas di depan Gedung Panglima Ghimbam, kantor DPRD Kabupaten Siak. Tulisan nama lembaga yang menjadi simbol kekuasaan legislatif daerah tampak rusak, kusam, dan berantakan.
Kondisi itu memunculkan pertanyaan publik tentang kepedulian para wakil rakyat terhadap rumah yang mereka tempati setiap hari.
Gedung yang seharusnya menjadi simbol kehormatan, pengawasan, dan perjuangan aspirasi masyarakat justru menampilkan wajah yang jauh dari kata representatif.
Dari kejauhan, kondisi papan nama DPRD Siak terlihat tidak terurus, sehingga menimbulkan kesan seolah-olah gedung tersebut ditinggalkan penghuninya.
Sejumlah warga menilai kondisi itu bukan sekadar persoalan papan nama, melainkan mencerminkan lemahnya perhatian terhadap hal-hal mendasar di lingkungan DPRD sendiri.
“Ini rumah rakyat. Kalau nama gedungnya saja dibiarkan rusak dan berantakan, bagaimana masyarakat mau yakin wakil rakyat serius mengurus persoalan yang lebih besar?” ujar seorang warga Siak yang meminta namanya tidak dipublikasikan.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi simbol yang sulit diabaikan. Sebab, DPRD selama ini berada di garis depan mengawasi kinerja pemerintah daerah, membahas anggaran miliaran rupiah, hingga mengklaim memperjuangkan kepentingan masyarakat.
Namun, fakta di depan mata menunjukkan identitas gedung mereka sendiri tampak luput dari perhatian.
Kritik warga pun semakin tajam. Mereka menilai papan nama yang rusak selama berbulan-bulan seharusnya tidak perlu menunggu sorotan publik untuk diperbaiki.
“Jangan hanya sibuk mengkritik OPD atau pemerintah. Rumah sendiri dulu dibenahi. Kalau hal sederhana seperti ini saja tidak menjadi perhatian, publik berhak mempertanyakan tingkat kepedulian para wakil rakyat terhadap lingkungan kerjanya sendiri,” kata warga lainnya.
Kondisi tersebut dinilai mencederai citra DPRD sebagai lembaga terhormat. Sebab, gedung legislatif bukan sekadar bangunan fisik, melainkan simbol marwah dan kehormatan lembaga yang mewakili suara masyarakat Kabupaten Siak.
Menanggapi sorotan tersebut, Sekretaris DPRD (Sekwan) Siak, Budi, mengatakan papan nama gedung memang akan segera diperbaiki.
“Sudah mau diperbaiki. Nanti akan diganti baru semuanya,” ujarnya singkat.
Meski demikian, publik berharap perbaikan tidak hanya sebatas mengganti papan nama. Yang lebih penting adalah membangun kembali kepekaan terhadap hal-hal kecil yang mencerminkan kualitas tata kelola lembaga.
Sebab, bagi masyarakat, kondisi berantakannya nama Gedung DPRD Siak bukan sekadar persoalan huruf yang rusak, melainkan simbol yang mengundang pertanyaan besar tentang sejauh mana wakil rakyat menjaga marwah rumah rakyat itu sendiri.(Alek)