INTERNET SEHAT

INTERNET SEHAT

Bupati Afni: Saya Tak Selamanya Jadi Bupati, Tapi Perjuangan Hak dan Marwah Negeri Siak Tak Boleh Berhenti

SIAK — Ada pesan yang lahir bukan sekadar dari seorang kepala daerah, tetapi dari kegelisahan seorang anak negeri yang memikirkan masa depan tanah kelahirannya.

Bupati Siak, Dr. Afni Zulkifli, menyampaikan sebuah pesan yang ia susun sendiri. Pesan itu bukan hanya berbicara tentang Dana Bagi Hasil (DBH), bukan pula semata-mata tentang angka-angka dalam dokumen keuangan negara. Lebih dari itu, ada kegelisahan tentang keadilan, ada amanah tentang masa depan, dan ada marwah Negeri Melayu Siak yang menurutnya harus terus diperjuangkan.

Afni sadar, jabatan Bupati bukanlah jabatan yang akan melekat selamanya. Akan tiba masanya ia kembali menjadi masyarakat biasa. Namun, ia berharap perjuangan untuk kepentingan masyarakat Siak tidak ikut berakhir ketika masa jabatannya selesai.

“Untuk disimak oleh anak-anak Melayu Siak. Inilah pesan yang disusun sendiri, karena saya sadar tak akan selamanya menjadi Bupati. Kelak perjuangan ini harus terus dilanjutkan demi kemaslahatan seisi Negeri,” tulis Afni.

Kalimat itu menjadi pengingat bahwa seorang pemimpin boleh saja meninggalkan kursi kekuasaan, tetapi tanggung jawab terhadap tanah kelahiran tidak semestinya ikut ditinggalkan.

Di Balik Angka DBH, Ada Nasib Sebuah Negeri

Bagi Afni, persoalan pembagian Dana Bagi Hasil antara pemerintah pusat dan daerah bukan sekadar urusan hitung-hitungan anggaran. Di balik angka yang tercantum dalam dokumen fiskal, ada pembangunan yang harus dilanjutkan, pelayanan masyarakat yang mesti dijaga, serta harapan rakyat yang tidak boleh diabaikan.

Karena itu, ia mempertanyakan mengapa rumus dan formula pembagian DBH yang menjadi dasar perhitungan hak daerah masih dirasakan belum terbuka secara memadai.

Daerah membutuhkan penjelasan yang terang. Bagaimana angka itu dihitung? Apa saja variabel yang digunakan? Bagaimana kontribusi daerah penghasil diperhitungkan dalam penerimaan negara dan pembagian hasilnya kepada daerah?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukanlah bentuk penolakan terhadap negara. Justru, menurut pesan yang disampaikan Afni, kecintaan kepada Indonesia harus berjalan seiring dengan keberanian memperjuangkan keadilan bagi daerah.

“Siak bukan hanya tentang tautan sejarah, tapi juga ada marwah daerah. Ini tentang keseimbangan antara kesetiaan pada Negara dan puncak gelisah pada angka-angka serta rumus bagi hasil yang selalu disembunyikan,” ungkapnya.

Ada kegelisahan yang ingin ia sampaikan: bagaimana daerah dapat merencanakan masa depannya dengan baik apabila dasar perhitungan hak fiskalnya belum dipahami secara terang?

Bagi Siak, keterbukaan bukan sekadar kebutuhan administratif. Keterbukaan adalah jalan untuk membangun kepercayaan, memastikan keadilan, dan menjaga hubungan yang sehat antara pemerintah pusat dengan daerah.

Siak Tidak Meminta Dikasihani

Afni tidak ingin perjuangan daerah dipahami sebagai permintaan belas kasihan kepada pemerintah pusat.

Siak tidak sedang meminta perlakuan istimewa. Yang diperjuangkan adalah kejelasan, transparansi, dan pembagian yang dapat dipertanggungjawabkan sesuai ketentuan yang berlaku.

Sebab, mencintai Indonesia bukan berarti harus memendam pertanyaan ketika ada hak daerah yang perlu diperjelas. Kesetiaan kepada Negara tidak menghapus kewajiban seorang pemimpin untuk menyuarakan kepentingan masyarakat yang dipimpinnya.

“Mencintai Indonesia tidak berarti menutup mata terhadap hak-hak daerah yang perlu diperjuangkan. Kita tidak sedang minta dikasihani, namun sedang menjaga marwah dan amanah, tentang Tanah lahir dan Tanah mati,” tulis Afni.

Kalimat tanah lahir dan tanah mati terasa lebih dalam dari sekadar ungkapan tentang tempat seseorang berasal dan kelak kembali. Di dalamnya tersimpan ikatan batin dengan tanah kelahiran, dengan sejarah yang diwariskan leluhur, dan dengan tanggung jawab untuk memastikan generasi berikutnya tidak kehilangan hak untuk membangun negerinya sendiri.

Pesan untuk Anak-Anak Melayu Siak

Pesan Afni juga ditujukan kepada generasi muda Melayu Siak.

Ia ingin perjuangan menjaga hak daerah tidak berhenti pada satu periode kepemimpinan. Anak-anak negeri harus memahami bahwa mencintai kampung halaman bukan hanya dengan mengenang kejayaan masa lalu, tetapi juga dengan berani mengawal masa depan.

Sejarah Siak mengajarkan tentang kehormatan dan jati diri. Namun, kehormatan itu juga harus hadir dalam perjuangan membangun kehidupan masyarakat yang lebih baik.

Jalan perjuangan tersebut tentu membutuhkan data yang kuat, keterbukaan pemerintah, dialog yang sehat, serta langkah-langkah konstitusional yang dapat dipertanggungjawabkan.

Perjuangan DBH pun tidak semestinya menjadi urusan seorang Bupati semata. Ini merupakan kepentingan bersama yang membutuhkan keterlibatan pemerintah daerah, DPRD, tokoh masyarakat, dan generasi muda Siak.

Sebab, siapa pun yang kelak duduk di kursi kepemimpinan, persoalan hak daerah tetap harus dikawal.

Jabatan Akan Berakhir, Amanah Jangan Sampai Pudar

Pada akhirnya, pesan yang ditulis Afni mengandung sebuah kesadaran sederhana, tetapi mendalam: tidak ada jabatan yang abadi.

Hari ini seseorang dipercaya memimpin. Esok, tongkat kepemimpinan akan berpindah ke tangan orang lain. Namun, tanah kelahiran tetap ada, masyarakat tetap membutuhkan perhatian, dan persoalan keadilan tidak serta-merta selesai hanya karena seorang pemimpin telah menuntaskan masa tugasnya.

Bagi Afni, memperjuangkan Siak bukan semata-mata tentang siapa yang sedang menjadi Bupati. Perjuangan itu jauh lebih besar daripada jabatan, lebih panjang daripada masa pemerintahan, dan lebih penting daripada kepentingan pribadi.

Ia ingin meninggalkan pesan bahwa marwah negeri harus dijaga bersama, hak daerah harus diperjuangkan dengan cara yang benar, dan masa depan masyarakat tidak boleh bergantung pada keberadaan satu orang pemimpin saja.

Sebab, ketika kelak jabatan itu telah menjadi kenangan, yang tersisa bukanlah kursi kekuasaan, melainkan jejak pengabdian dan apa yang telah diperjuangkan untuk masyarakat.

Siak adalah tanah kelahiran, tempat sejarah berakar dan harapan dititipkan. Menjaga marwahnya bukan pekerjaan sehari atau perjuangan seorang pemimpin saja. Itu adalah amanah lintas generasi, agar anak cucu Melayu Siak kelak tetap memiliki alasan untuk bangga pada negerinya sendiri. (Infotoral)