SIAK — Ada kesedihan yang tak cukup diungkapkan dengan kata-kata. Ada penyesalan yang membuat seorang pemimpin merasa begitu kecil di hadapan rakyatnya sendiri. Dan ada kenyataan pahit yang terasa menyesakkan dada: di sebuah daerah yang kekayaan alamnya ikut menyumbang bagi negeri, anak-anaknya masih harus bertaruh kenyamanan demi bisa sampai ke sekolah.
Di Kampung Teluk Lanus, Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak, Riau, kenyataan itu terpampang di depan mata Bupati Siak, Afni Zulkifli.
Anak-anak berseragam sekolah yang seharusnya berangkat menuntut ilmu dengan aman, justru harus menumpang mobil Cold Diesel. Kendaraan yang bukan dirancang sebagai bus sekolah itu menjadi tumpuan perjalanan mereka, karena fasilitas transportasi khusus pelajar belum tersedia.
Mereka bertumpuk. Sebagian harus berdiri. Perjalanan pergi dan pulang sekolah bahkan bisa menghabiskan waktu hampir dua jam.
Bayangkan, anak-anak yang masih belia itu harus menempuh perjuangan panjang sebelum duduk di bangku kelas. Ketika anak-anak di daerah lain bisa menikmati perjalanan sekolah yang lebih nyaman, anak-anak Teluk Lanus masih harus menghadapi keterbatasan yang semestinya menjadi perhatian bersama.
Pemandangan itulah yang membuat hati Afni teriris.
Di tengah kunjungannya meresmikan revitalisasi SD Negeri 17 Teluk Lanus, kebahagiaan karena melihat gedung sekolah yang lebih layak seolah bercampur dengan kesedihan. Sebab, bangunan sekolah yang diperbaiki belum serta-merta menghapus seluruh kesulitan yang dialami anak-anak di wilayah pesisir tersebut.
Ada sesuatu yang masih tertinggal. Ada hak anak-anak yang masih harus diperjuangkan.
Dan dari lubuk hati yang paling dalam, Afni menyampaikan ungkapan yang menyayat perasaan.
“Maafkan kami.”
Dua kata sederhana. Namun, di baliknya tersimpan beban seorang pemimpin yang menyaksikan rakyatnya masih hidup dalam keterbatasan.
Di Tanah Kaya, Anak-anak Masih Menunggu Kesetaraan
Kabupaten Siak bukan daerah yang asing dengan kekayaan alam. Minyak dan gas bumi telah lama menjadi bagian penting dari sejarah ekonomi daerah ini. Siak juga merupakan daerah penghasil yang turut berkontribusi terhadap penerimaan negara melalui sektor sumber daya alam.
Namun, di pelosok Teluk Lanus, kekayaan itu belum sepenuhnya terasa dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Di Dusun Mungkal, yang berada di wilayah Teluk Lanus, akses listrik masih menjadi persoalan. Anak-anak masih menunggu transportasi sekolah yang layak. Mereka juga menanti program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang hingga kini, menurut keterangan Afni, belum menjangkau satu pun wilayah 3T di Kabupaten Siak.
Kontras ini terasa begitu menyedihkan.
Kekayaan alam yang melimpah seakan berjarak jauh dari kebutuhan paling mendasar masyarakat di pelosok. Sementara sumber daya alam terus menjadi bagian dari denyut ekonomi, masih ada anak-anak yang harus berjuang hanya untuk memperoleh fasilitas pendidikan yang semestinya bisa mereka nikmati.
“Ini masih jauh dari kata sempurna. Anak-anak kami masih belum punya bus sekolah, mereka harus bertumpuk berdiri hampir dua jam hanya untuk pergi dan pulang sekolah,” ungkap Afni.
Kalimat itu bukan sekadar keluhan tentang kurangnya kendaraan. Di baliknya ada pertanyaan yang lebih besar: sudah sejauh mana pembangunan benar-benar hadir untuk anak-anak yang tinggal jauh dari pusat pemerintahan?
Mereka tidak meminta gedung mewah. Mereka tidak menuntut fasilitas berlebihan. Mereka hanya membutuhkan perjalanan sekolah yang aman, listrik yang menerangi rumah, makanan bergizi, dan kesempatan belajar yang setara dengan anak-anak lainnya.
Bukankah setiap anak Indonesia memiliki hak yang sama untuk bermimpi?
Rumah Guru, Harapan yang Dibangun di Tengah Keterbatasan
Setelah meresmikan revitalisasi sekolah, Afni mengunjungi progres pembangunan rumah guru di Dusun Mungkal. Rumah tersebut dibangun melalui dukungan dana tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR.
Pembangunan itu membawa harapan baru. Namun, di baliknya tersimpan kisah yang tak kalah memilukan.
Afni mengaku merasa berdosa ketika melihat kondisi para guru, sosok yang selama ini mengabdikan diri mendidik generasi bangsa, tetapi masih menghadapi keterbatasan tempat tinggal.
Ia menyoroti kondisi tiga keluarga yang tinggal dalam satu rumah di Teluk Lanus.
Betapa berat pengabdian seorang guru ketika tugas mendidik anak-anak bangsa harus berjalan beriringan dengan keterbatasan kehidupan sehari-hari.
Guru mengajarkan anak-anak tentang cita-cita, masa depan, dan arti perjuangan. Namun, kesejahteraan serta kelayakan hidup mereka juga membutuhkan perhatian nyata.
Pembangunan rumah guru melalui CSR menjadi salah satu upaya menjawab kebutuhan tersebut. Meski demikian, persoalan yang dihadapi masyarakat Teluk Lanus masih jauh lebih luas daripada satu bangunan atau satu program bantuan.
Ada anak-anak yang membutuhkan kendaraan sekolah. Ada dusun yang menanti aliran listrik. Ada keluarga yang membutuhkan hunian layak. Dan ada murid-murid yang masih menunggu program pemenuhan gizi.
Semua itu adalah pekerjaan rumah yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan kata-kata.
MBG Belum Menyentuh Pelosok, Anak-anak Masih Menanti
Di antara berbagai persoalan tersebut, Afni juga menyoroti belum masuknya program Makan Bergizi Gratis ke wilayah 3T Kabupaten Siak.
Program nasional yang ditujukan untuk mendukung pemenuhan gizi anak-anak itu masih menjadi penantian masyarakat di kawasan terpencil.
Afni mengatakan Pemerintah Kabupaten Siak telah berulang kali menyampaikan permohonan kepada Badan Gizi Nasional (BGN), tetapi hingga saat ini belum memperoleh kepastian kapan pelayanan tersebut bisa menjangkau anak-anak di wilayah 3T.
“Anak-anak juga masih menunggu, kapan MBG mereka terima. Karena sampai saat ini belum satu pun daerah 3T di Kabupaten Siak, terlayani program nasional itu. Karena ini program pusat, sudah lama kami menyampaikan ke BGN, bermohon-mohon di setiap kesempatan, tapi entah kapan-kapan dapat jawaban,” tuturnya.
Bagi anak-anak, mungkin mereka tidak memahami persoalan koordinasi antarlembaga, keterbatasan anggaran, ataupun rumitnya pelaksanaan program pemerintahan.
Yang mereka tahu, mereka berangkat ke sekolah, belajar, dan berharap bisa mendapatkan makanan bergizi seperti anak-anak lainnya.
Mereka tidak seharusnya kehilangan kesempatan hanya karena tinggal di daerah yang jauh dari pusat keramaian.
Justru di wilayah yang sulit dijangkau, perhatian terhadap kebutuhan dasar anak-anak menjadi semakin penting.
Baru Menjabat, Afni Dihadapkan pada Warisan Persoalan
Afni dilantik sebagai Bupati Siak pada 4 Juni 2025. Ia mengaku kembali ke kampung halaman dengan niat sederhana: ingin berbuat baik semampu dirinya untuk masyarakat.
Namun, perjalanan pemerintahan yang dipimpinnya tidak berjalan tanpa hambatan.
Ia menyebut harus menghadapi dua kali proses di Mahkamah Konstitusi (MK), mengurai warisan utang daerah, serta menyikapi pemangkasan anggaran hingga ratusan miliar rupiah.
Berbagai persoalan tersebut menjadi tantangan dalam menjalankan pemerintahan dan memenuhi kebutuhan masyarakat.
Meski demikian, di hadapan kenyataan yang dijumpainya di Teluk Lanus, seluruh persoalan fiskal dan administrasi seolah kembali pada satu pertanyaan mendasar: bagaimana memastikan masyarakat yang paling jauh dari pusat pemerintahan tidak terus tertinggal?
Sebab, bagi seorang anak yang setiap hari harus menumpang kendaraan barang untuk bersekolah, persoalan pembangunan bukanlah sekadar angka dalam dokumen anggaran.
Bagi mereka, pembangunan adalah keselamatan dalam perjalanan. Pembangunan adalah lampu yang menyala pada malam hari. Pembangunan adalah makanan bergizi yang membantu mereka tumbuh. Dan pembangunan adalah kesempatan untuk meraih masa depan tanpa harus lebih dahulu menghadapi kesulitan yang seharusnya dapat dikurangi.
Afni menegaskan bahwa berbagai ujian yang dihadapi tidak akan membuatnya menyerah.
“Namun apa pun yang terjadi saat ini, kami tidak akan menyerah,” tegasnya.
“Sangat Banyak Rasanya Salah Kami pada Rakyat”
Di penghujung kunjungannya, kesedihan itu kembali terasa dalam pesan Afni.
Ia menyadari bahwa revitalisasi sekolah, pembangunan rumah guru, dan berbagai langkah yang telah dilakukan belum cukup untuk menjawab seluruh kebutuhan masyarakat di wilayah 3T.
Masih ada pekerjaan yang menunggu. Masih ada harapan yang belum terwujud. Masih ada anak-anak yang setiap pagi harus menempuh perjalanan panjang untuk mendapatkan pendidikan.
Dan masih ada keluarga yang menanti hadirnya pembangunan yang benar-benar mereka rasakan.
“Sangat banyak rasanya salah kami pada rakyat. Semoga Allah SWT memaafkan dan meridai apa-apa yang kami perjuangkan,” ucap Afni.
Ungkapan itu menjadi penutup kunjungan yang sarat emosi. Bukan karena semua persoalan telah selesai, melainkan karena masih begitu banyak yang harus diperjuangkan.
Teluk Lanus seakan mengirimkan pesan kepada seluruh pemangku kepentingan: jangan biarkan jarak geografis membuat anak-anak kehilangan haknya untuk tumbuh dan belajar secara layak.
Kabupaten Siak telah berusia sekitar 27 tahun sejak dimekarkan dari kabupaten induknya. Perjalanan panjang itu tentu telah membawa berbagai perubahan. Namun, potret kehidupan di pelosok menunjukkan bahwa pemerataan pembangunan masih membutuhkan kerja nyata dan perhatian berkelanjutan.
Kekayaan alam seharusnya berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Anak-anak di wilayah penghasil sumber daya alam juga berhak merasakan manfaat pembangunan, tanpa dibatasi tempat mereka dilahirkan atau tempat mereka bersekolah.
Hari ini, anak-anak Teluk Lanus masih menunggu bus sekolah. Sebagian dusun masih menanti listrik. Para guru membutuhkan tempat tinggal yang layak. Dan murid-murid masih berharap program pemenuhan gizi dapat menjangkau mereka.
Mereka tidak meminta kemewahan. Mereka hanya ingin kehidupan yang lebih layak.
Sebab, di balik seragam sekolah yang mereka kenakan, ada mimpi-mimpi kecil yang sedang tumbuh. Ada anak yang ingin menjadi guru, dokter, polisi, atau pemimpin. Ada orang tua yang berharap anaknya kelak memiliki kehidupan lebih baik daripada yang mereka jalani sekarang.
Jangan sampai mimpi-mimpi itu harus berhadapan dengan keterbatasan yang terus berulang.
“Maafkan kami,” kata Afni.
Namun, bagi anak-anak Teluk Lanus, permohonan maaf itu tentu akan terasa lebih bermakna ketika suatu hari nanti mereka tak perlu lagi berdiri berdesakan di atas mobil Cold Diesel, ketika rumah-rumah mereka telah menikmati listrik, ketika guru-guru mereka tinggal dengan layak, dan ketika kebutuhan gizi mereka tak lagi tertinggal dari anak-anak di daerah lain.
Sebab, ukuran keberhasilan pembangunan bukan hanya seberapa besar kekayaan alam yang dihasilkan, melainkan juga seberapa jauh manfaatnya menjangkau mereka yang paling membutuhkan.
Dan di Teluk Lanus, perjuangan untuk mewujudkan harapan itu masih terus berjalan. (Fendi)