PT ORI Tanam Investasi Rp1,6 Triliun di KITB, Bupati Afni: “Rakyat Siak Jangan Jadi Penonton di Negerinya Sendiri”
TANJUNG BUTON, SIAK — Ada harapan besar yang kembali tumbuh di Kawasan Industri Tanjung Buton (KITB).
Di tengah tekanan fiskal yang dihadapi Kabupaten Siak, ketika Transfer ke Daerah (TKD) berkurang dan Dana Bagi Hasil (DBH) Migas terus menghadapi tekanan, sebuah kabar besar datang dari Tanjung Buton.
PT Oriental Resources Indonesia (PT ORI) mulai merealisasikan investasi dengan total rencana mencapai Rp1,6 triliun di KITB Siak.
Bagi Bupati Siak Dr. Afni Zulkifli, M.Si., angka Rp1,6 triliun bukan sekadar nilai investasi.
Ini adalah tanda bahwa Siak masih memiliki masa depan ekonomi yang besar.
Investasi tersebut akan dilakukan secara bertahap. Tahap awal diproyeksikan sekitar Rp800 miliar, kemudian dilanjutkan dengan pengembangan berikutnya sekitar Rp800 miliar.
Pembangunan di lokasi investasi pun bukan lagi sekadar rencana di atas kertas.
Sejumlah pekerjaan awal telah dimulai. Penimbunan dan pematangan lahan serta pemancangan spun pile telah dilakukan sebagai bagian dari persiapan pembangunan fasilitas industri.
“Saya tidak mau peresmian hanya gunting pita, tapi investasinya harus benar-benar ada dan nyata,” tegas Afni saat peresmian, Kamis (8/10/2026).
Kalimat itu menjadi penegasan bahwa pemerintahannya ingin memastikan setiap investasi yang masuk ke Siak benar-benar bergerak dan memberikan dampak nyata.
Bukan Sekadar Industri, Tapi Hilirisasi
PT ORI akan membangun sejumlah fasilitas industri di KITB.
Di antaranya storage tank, refinery plant berkapasitas 1.100 TPD, biofuel enzymatic berkapasitas 1.000 TPD, PKS berkapasitas 45 ton per jam serta Jetty/Terminal untuk Kepentingan Sendiri (TUKS).
Berbagai fasilitas pendukung juga disiapkan, seperti Water Treatment Plant, fasilitas biogas, Wastewater Treatment Plant, workshop dan gudang.
Yang membuat investasi ini semakin strategis bagi Siak adalah konsep hilirisasi yang dibawanya.
Afni menyebut PT ORI menjadi investasi berbasis hilirisasi kelapa sawit, termasuk pengembangan biofuel.
“Jadi nanti pengolahan CPO dan ekspor CPO bisa selesai dari KITB Siak. Ini menjadi sejarah baru bagi Siak,” kata Afni.
Selama ini, potensi besar kelapa sawit di Riau telah menjadi kekuatan ekonomi daerah. Namun tantangannya adalah bagaimana komoditas tersebut tidak berhenti sebagai bahan mentah.
Melalui hilirisasi, nilai tambahnya diharapkan tinggal dan berputar di daerah.
Dan KITB dipersiapkan menjadi tempatnya.
Kado HUT ke-27 Kabupaten Siak
Bagi Afni, dimulainya investasi PT ORI juga menjadi momentum istimewa bagi Kabupaten Siak yang memasuki usia ke-27 tahun.
“PT ORI adalah investasi berbasis industri kedua yang kita resmikan di KITB di masa pemerintahan kami. Sebelumnya ada industri galangan kapal. Menjadi kado HUT Siak ke-27 tahun, dan penanda bahwa BUMD KITB Siak sedang menjadi sentral ekonomi baru di Sumatera,” ujarnya.
Afni mengajak seluruh pihak untuk menjaga dan mendukung investasi yang masuk.
Sebab, menurutnya, membangun kawasan industri bukan pekerjaan satu pemerintah daerah saja.
Dibutuhkan kolaborasi pemerintah, BUMD, investor, masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan.
Bahkan, Afni optimistis investasi PT ORI bukanlah akhir.
Justru menjadi awal.
“InsyaAllah akan banyak lagi investasi yang masuk ke KITB setelah ini,” katanya.
Rakyat Siak Harus Menjadi Pelaku
Namun bagi Bupati Afni, keberhasilan investasi tidak hanya diukur dari berapa triliun uang yang masuk.
Ukuran paling penting adalah seberapa besar manfaatnya dirasakan rakyat.
Karena itu, Afni memberikan penekanan khusus soal tenaga kerja.
“Tenaga kerja wajib hukumnya putra-putri Siak. Kalaupun ada tim teknis dari luar, harus ada transfer knowledge, sehingga rakyat Siak tak lagi jadi penonton di negerinya sendiri,” tegasnya.
Pesan tersebut menjadi bagian penting dari visi pemerintahannya.
KITB tidak boleh hanya menjadi tempat berdirinya perusahaan-perusahaan besar.
KITB harus menjadi tempat masyarakat Siak mendapatkan pekerjaan, meningkatkan keterampilan, membuka usaha, menjadi pemasok barang dan jasa, serta menikmati pertumbuhan ekonomi yang lahir dari kawasan tersebut.
Dengan demikian, investasi tidak hanya memperbesar angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperbesar kesejahteraan masyarakat.
Pelabuhan Akan Dibangkitkan Kembali
Afni juga menyampaikan komitmennya untuk membenahi infrastruktur pendukung KITB.
“Pelabuhan yang ambruk juga insyaAllah akan kita bangun kembali,” ungkapnya.
Bagi kawasan industri, keberadaan pelabuhan merupakan salah satu kunci penting untuk memperlancar arus bahan baku maupun hasil produksi.
Karena itu, pembenahan infrastruktur KITB menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya menjadikan kawasan tersebut sebagai pusat industri dan logistik baru.
Afni melihat Tanjung Buton bukan hanya milik hari ini.
Ada masa depan Siak yang sedang dipertaruhkan di kawasan tersebut.
Siak Tidak Boleh Menyerah
Tekanan fiskal tidak membuat Pemerintah Kabupaten Siak menyerah.
Sebaliknya, pemerintah daerah berupaya mencari sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru.
Jika selama ini Siak dikenal sebagai daerah penghasil migas, maka ke depan pemerintah ingin memastikan Siak memiliki banyak mesin ekonomi baru.
Industri, hilirisasi, kawasan pelabuhan, perdagangan, investasi dan berbagai sektor lainnya harus tumbuh berdampingan.
“Siak adalah Negeri Bertuah. InsyaAllah dengan kolaborasi semua pihak dan kemudahan berinvestasi, akan banyak alternatif ekonomi baru yang kita siapkan bagi rakyat Siak hari ini dan di masa depan,” kata Afni.
Rp1,6 Triliun dan Sebuah Pesan untuk Masa Depan
Sementara itu, GM PT Oriental Resources Indonesia, Sutiman, SP., mengatakan investasi tersebut merupakan bentuk komitmen perusahaan untuk mengembangkan industri berbasis kelapa sawit dan produk turunannya di Riau.
Selain tahap awal sekitar Rp800 miliar, PT ORI menyiapkan pengembangan sekitar Rp800 miliar berikutnya.
Rencananya, perusahaan akan mengembangkan fasilitas pengolahan minyak turunan untuk produk pangan seperti margarine dan special fats.
Dengan demikian, total rencana investasi mencapai sekitar Rp1,6 triliun.
Bagi Kabupaten Siak, investasi ini diharapkan menjadi awal dari rangkaian investasi berikutnya.
Sebab mimpi besar KITB bukan hanya membangun pabrik.
Mimpi besarnya adalah menciptakan ekosistem ekonomi baru.
Dari Tanjung Buton, bahan baku diolah.
Dari Tanjung Buton, produk bernilai tambah dihasilkan.
Dari Tanjung Buton, barang dikirim.
Dan dari Tanjung Buton pula, diharapkan lahir lapangan kerja dan masa depan baru bagi anak-anak Siak.
Hari ini PT ORI datang membawa investasi Rp1,6 triliun.
Besok, Afni berharap lebih banyak investor menyusul.
Karena bagi Negeri Istana, pembangunan ekonomi tidak boleh berhenti hanya karena fiskal sedang tertekan.
Siak harus tetap bergerak. KITB harus bangkit. Dan rakyat Siak harus menjadi pelaku utama di tanahnya sendiri. (Fendi)