INTERNET SEHAT

INTERNET SEHAT

Direhabilitasi 2018–2019, Tangsi Belanda Ambruk: Dugaan Proyek Asal Jadi dan Lemahnya Pengawasan Pemda.

Siak — Ambruknya lantai dua bangunan bersejarah Tangsi Belanda di kawasan Benteng Hulu, Kecamatan Mempura, Kabupaten Siak, pada Sabtu (31/1/2026), membuka tabir serius dugaan kelalaian sistemik dalam pengelolaan dan perawatan aset cagar budaya milik daerah.

Bangunan peninggalan kolonial Belanda tersebut diketahui telah direhabilitasi menggunakan anggaran negara pada tahun 2018–2019. Namun fakta di lapangan justru menunjukkan kondisi bangunan yang lapuk, rapuh, dan tidak layak fungsi, hingga berujung pada insiden yang melukai sejumlah siswa sekolah.

Berdasarkan penelusuran media, runtuhnya lantai dua Tangsi Belanda diduga kuat disebabkan oleh kayu dan papan yang telah dimakan rayap, ditambah indikasi kualitas konstruksi yang buruk serta minim perawatan pascarehabilitasi.

Lebih jauh, kondisi bangunan mengarah pada lemahnya pengawasan teknis Pemerintah Daerah, baik saat pelaksanaan proyek rehabilitasi maupun dalam pengelolaan rutin bangunan cagar budaya yang seharusnya mendapat perlakuan khusus.

Proyek rehabilitasi Tangsi Belanda pada 2018–2019 diketahui dilaksanakan oleh Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Siak. Namun ambruknya lantai dua bangunan tersebut memunculkan pertanyaan besar:

apakah pekerjaan dilakukan sesuai standar teknis, dan sejauh mana pengawasan dijalankan?

Seorang penjaga Tangsi Belanda yang ditemui media mengungkapkan dugaan serius terkait kualitas pekerjaan rehabilitasi saat itu.

Ia menilai pekerjaan dilakukan asal-asalan dan tidak memenuhi standar konstruksi.

“Kalau dilihat dari bagian yang ambruk, ini kesalahan rekanan kontraktor. Balok kayunya tidak dipaku ke dinding, cuma ditempel saja ke lubang dinding,” ungkapnya.

Pernyataan ini semakin memperkuat dugaan bahwa kegagalan konstruksi bukan sekadar faktor usia bangunan, melainkan akibat kesalahan teknis dan lemahnya pengawasan proyek.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Siak, Syafrizal, membenarkan peristiwa tersebut dan mengonfirmasi adanya korban luka.

“Ada beberapa anak sekolah yang terluka dan sudah kita bawa ke RSUD Siak untuk dilakukan perawatan,” katanya.

Insiden ini langsung memicu reaksi keras dari publik. Masyarakat mendesak aparat penegak hukum turun tangan untuk melakukan penyelidikan menyeluruh, tidak hanya terkait penyebab ambruknya bangunan, tetapi juga menelusuri pihak-pihak yang bertanggung jawab dalam proyek rehabilitasi 2018–2019.

Desakan juga mengarah pada perlunya audit anggaran dan pemeriksaan kontraktor pelaksana, termasuk peran pejabat pengawas proyek.

Sebagai respons, Bupati Siak langsung mendatangi RSUD Siak untuk menjenguk para siswa korban, menunjukkan kepedulian terhadap musibah yang menimpa masyarakat.

Namun hingga berita ini diterbitkan, Dinas PU Kabupaten Siak belum memberikan keterangan resmi terkait:

standar teknis rehabilitasi,

mekanisme pengawasan proyek,

maupun evaluasi pascakejadian.

Ambruknya Tangsi Belanda kini bukan sekadar insiden bangunan tua runtuh, melainkan alarm keras atas buruknya tata kelola aset daerah, yang berpotensi membahayakan keselamatan publik jika tidak diusut secara transparan dan tuntas.