INTERNET SEHAT

INTERNET SEHAT

Janji Pengabdian yang Terlupakan, Rakyat yang Menjadi Korban.

Siak — Di balik megahnya bangunan rumah sakit, ada harapan masyarakat yang dititipkan pada sumpah para dokter. 

Namun kini, harapan itu terasa retak. Kondisi pelayanan kesehatan di RSUD Tengku Rafian Siak yang ramai diperbincangkan di media sosial beberapa hari terakhir menimbulkan satu perasaan yang sama di tengah masyarakat: miris.

Seorang warga Siak yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan kekecewaannya. Ia menilai, situasi ini bukan sekadar persoalan internal tenaga medis, melainkan sudah menyentuh hak dasar masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak.

“Ini sangat merugikan masyarakat. Kami yang sakit ini tidak bisa menunggu. Pelayanan kesehatan itu kebutuhan mendesak, bukan sesuatu yang bisa ditunda,” ujarnya dengan nada kecewa.

Di tengah polemik yang berkembang, sorotan tajam mengarah pada sikap sebagian dokter spesialis. Mereka dinilai lebih mengedepankan persoalan finansial dibandingkan komitmen pengabdian yang pernah diikrarkan saat mengucapkan sumpah profesi. 

Padahal, sumpah tersebut bukan sekadar formalitas, melainkan janji moral untuk mengutamakan keselamatan dan pelayanan kepada pasien di atas segalanya.

Penutupan atau terganggunya layanan medis bukan hanya berdampak pada sistem, tetapi langsung menyentuh kehidupan masyarakat kecil. Mereka yang tidak memiliki banyak pilihan kini menjadi pihak paling terdampak. Rasa cemas, ketidakpastian, hingga ancaman keselamatan menjadi bayang-bayang yang nyata.

Sejumlah kalangan menilai, langkah menghentikan pelayanan bukanlah solusi. Bahkan, tindakan tersebut dianggap melanggar tanggung jawab profesi dan etika pelayanan publik. Pelayanan kesehatan adalah kewajiban, bukan alat tawar-menawar.

“Jangan campur adukkan antara hak dan kewajiban. Menuntut hak itu sah, tapi meninggalkan kewajiban itu fatal,” ungkap seorang pengamat lokal.

Dalam situasi yang kian memanas, pemerintah daerah didorong untuk segera mengambil langkah konkret. Salah satu solusi darurat yang diusulkan adalah memberdayakan dokter umum dan tenaga kesehatan lainnya untuk membuka kembali layanan dasar di RSUD Tengku Rafian.

Langkah ini dinilai penting agar masyarakat tetap mendapatkan akses pelayanan kesehatan, sembari menunggu penyelesaian persoalan yang terjadi. Sebab, dalam dunia medis, waktu adalah segalanya. Penyakit tidak mengenal kompromi, dan penderitaan tidak bisa ditunda.

Kini, masyarakat hanya berharap satu hal sederhana: kembalinya pelayanan yang manusiawi. Karena pada akhirnya, kesehatan bukan sekadar layanan, melainkan hak dasar yang harus dijaga, dilindungi, dan dipenuhi oleh semua pihak yang telah bersumpah untuk mengabdi.(MN2)