Siak — Rasa aman warga Kecamatan Mempura kian runtuh. Kasus pembunuhan pengusaha barang bekas pada 2024 yang hingga kini tak kunjung terungkap, kini dibayangi aksi kriminal lebih brutal: seorang bos ponsel dibacok hingga kritis dalam perampokan berdarah.
Peristiwa lama yang terjadi pada Kamis malam (6/6/2024) masih menyisakan tanda tanya besar.
Seorang pengusaha barang bekas tewas bersimbah darah di depan rumahnya. Hingga hari ini, pelaku tak tersentuh hukum. Tak ada kejelasan, tak ada kepastian.
Kini, luka lama itu seperti kembali disayat.
Jumat malam (20/3/2026), sekitar pukul 19.30 WIB, aksi keji kembali terjadi—lokasinya pun tak jauh dari kasus sebelumnya. Korban adalah Parlindungan Hutagaol (53), pemilik Parlin Ponsel.
Korban ditemukan dalam kondisi mengenaskan. Luka bacok menganga di kepala dan wajah, darah berserakan di dalam toko yang sudah porak-poranda—menjadi saksi bisu keganasan pelaku.
Korban pertama kali ditemukan oleh karyawannya.
“Saya panggil tidak ada jawaban. Saat masuk, korban sudah tergeletak bersimbah darah,” ujar Rahmi (23) dengan suara bergetar.
Warga yang datang langsung mengevakuasi korban ke RSUD Siak dalam kondisi kritis. Dari hasil pemeriksaan awal, korban mengalami luka serius di kepala kanan, kening kiri, serta robekan di kedua pipi—diduga akibat senjata tajam.
Tak hanya membacok korban, pelaku juga diduga menggondol uang tunai sekitar Rp200 juta.
Dua kejadian berdarah dalam satu wilayah, dengan pola kekerasan yang sama, memunculkan pertanyaan serius: apakah aparat benar-benar mampu menjamin keamanan warga?
Sejumlah warga mulai angkat suara. Mereka menilai lambannya pengungkapan kasus lama telah menciptakan ruang bagi pelaku kejahatan untuk kembali beraksi.
“Kalau yang dulu saja tidak terungkap, bagaimana kami bisa merasa aman sekarang?” ujar seorang warga dengan nada kecewa.
Pihak kepolisian menyatakan tengah bekerja. Tim Opsnal Sat Reskrim Polres Siak telah turun ke lokasi, melakukan olah TKP, mengamankan barang bukti, serta memeriksa saksi.
Kapolres Siak menegaskan komitmennya.
“Kami serius. Tim sudah bergerak untuk penyelidikan intensif dan pengejaran pelaku,” tegasnya.
Namun bagi warga, pernyataan saja tidak cukup. Mereka menuntut hasil nyata—penangkapan pelaku, pengungkapan motif, dan kepastian hukum.
Kasus ini bukan sekadar kriminalitas biasa. Ini adalah alarm keras bagi aparat penegak hukum. Ketika satu kasus dibiarkan menggantung, kejahatan lain bisa tumbuh tanpa rasa takut.
Kini, publik menunggu: apakah aparat mampu menjawab keresahan ini, atau Mempura akan terus hidup dalam bayang-bayang teror berdarah?.(MN2)