INTERNET SEHAT

INTERNET SEHAT

Sambut HCPSN 2026, Belantara Foundation dan Universitas Pakuan Perkuat Edukasi Koeksistensi Manusia-Gajah Sumatra

Belantara Foundation bekerja sama dengan Program Studi (Prodi) Manajemen Lingkungan Sekolah Pascasarjana, Prodi Biologi FMIPA dan Prodi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Pakuan menyelenggarakan kegiatan Belantara Learning Series Episode 16 (BLS Eps.16) dengan tema “Koeksistensi Manusia dan Gajah Sumatra: Tantangan, Inovasi dan Solusi” pada Rabu, 4 November 2026.

BLS Eps.16 secara luring dipusatkan di Auditorium Lantai 3 Gedung Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan di Bogor, sedangkan daring melalui aplikasi Zoom dan live streaming Youtube Belantara Foundation. Sebanyak 542 peserta berpartisipasi aktif dalam kegiatan yang digelar secara hybrid tersebut.

Kegiatan ini juga didukung oleh Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI), Tropical Forest Conservation Act (TFCA) Sumatera, IUCN Asia Regional Office-Bangkok, Araanyak-India, Conservation Allies-USA, serta menggandeng empat perguruan tinggi lainnya sebagai kolaborator yang mengadakan acara “Nonton dan Belajar Bareng” BLS Eps.16 bagi mahasiswa dan dosen di masing-masing universitas. Empat universitas tersebut yaitu Universitas Riau, Universitas Andalas, Universitas Tanjungpura, dan Universitas Antakusuma.

Kegiatan BLS Eps.16 secara khusus dilaksanakan untuk memperingati Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) 2026 yang jatuh pada 5 November setiap tahunnya. Tema yang diusung adalah “Tingkatkan Rasa Cinta Flora-Fauna di Indonesia”, menyoroti pentingnya kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam menjaga dan melestarikan flora dan fauna Indonesia. Salah satunya dengan cara hidup berdampingan dengan gajah sumatra di habitat alaminya.

Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dr. Dolly Priatna, selaku narasumber pada kegiatan ini, dalam paparannya menjelaskan bahwa upaya membangun koeksistensi manusia dan gajah sumatra (Elephas maximus sumatranus) di Lanskap Sugihan-Simpang Heran, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, menghadapi tantangan kompleks akibat penyusutan dan alih fungsi habitat, kebakaran hutan dan lahan, keterbatasan sumber pakan, serta meningkatnya interaksi negatif antara masyarakat dengan gajah sumatra. Koeksistensi bukan berarti tidak adanya interaksi negatif, melainkan proses adaptasi dua arah antara manusia dan satwa liar yang perlu didukung oleh langkah nyata, pembagian tanggung jawab yang adil, serta sinergi dan kolaborasi multipihak.

Dolly, yang juga Dosen Prodi Manajemen Lingkungan, Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan, berdasarkan hasil studinya mengungkapkan terdapat delapan rekomendasi langkah strategis untuk mewujudkan koeksistensi antara manusia dan gajah sumatra khususnya di Lanskap Sugihan-Simpang Heran, Kabupaten OKI, Sumatera Selatan. Delapan rekomendasi tersebut meliputi penguatan pendampingan dan mitigasi interaksi negatif di desa prioritas, penyusunan mekanisme kompensasi yang transparan, pemulihan habitat dan ketersediaan pakan gajah, penguatan patroli dan kelembagaan desa, evaluasi efektivitas teknologi penghalau dan translokasi gajah, peningkatan penyadartahuan dan edukasi masyarakat, pengembangan sistem data dan koordinasi antarpemangku kepentingan, serta pemantauan interaksi negatif secara berkala.

“Keberhasilan koeksistensi manusia dengan gajah sumatra sangat bergantung pada kemampuan seluruh pihak, mulai dari pemerintah, perusahaan pemegang konsesi, masyarakat, akademisi, hingga organisasi konservasi, untuk bersama-sama mengurangi risiko interaksi negatif, melindungi keselamatan masyarakat, dan memastikan keberlangsungan populasi gajah sumatra di habitat alaminya”, tandas Dolly, yang juga sebagai Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Kemitraan Universitas Pakuan.


Pada kesempatan yang sama, Direktur Konservasi Spesies dan Genetik pada Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, Dr. Ahmad Munawir, S.Hut., M.Si., yang diwakilkan oleh Kepala Sub Direktorat Pengawetan Spesies dan Genetik, Budi Mulyanto, S.Pd.,M.Si., dalam keynote speech-nya menegaskan bahwa pentingnya penguatan kebijakan dan kolaborasi lintas sektor dalam menyelamatkan populasi dan habitat gajah sumatra yang berstatus kritis (Critically Endangered). Ia menjelaskan bahwa pemerintah telah menetapkan Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2026 serta Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Gajah Sumatra dan Gajah Kalimantan 2026–2036 sebagai landasan penyelamatan populasi dan habitat gajah, termasuk penanganan interaksi negatif manusia dan gajah di 21 lanskap prioritas.


Budi, lebih lanjut menjelaskan upaya membangun koeksistensi perlu dilakukan melalui pendekatan terpadu yang mencakup penguatan data dan sains, perlindungan koridor dan habitat, sistem deteksi dini, respons cepat terhadap interaksi negatif, penegakan hukum, serta perlindungan ekonomi masyarakat melalui mata pencaharian alternatif dan mekanisme kompensasi. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi heksaheliks yang melibatkan pemerintah, masyarakat, akademisi, sektor swasta, media, dan organisasi masyarakat sipil untuk mewujudkan konservasi gajah sumatra yang efektif dan berkelanjutan.


Senada dengan Budi, Ketua Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI), Donny Gunaryadi mengungkapkan bahwa upaya konservasi gajah sumatra dan kalimantan yang efektif dan berkelanjutan memerlukan pendekatan terintegrasi yang menggabungkan ilmu pengetahuan berbasis data, penataan ruang lanskap, pelibatan aktif masyarakat, penegakan hukum, serta kemandirian finansial. Melalui SRAK Gajah Sumatra dan Gajah Kalimantan 2026–2036 serta alokasi investasi strategis, program ini menargetkan pemulihan konektivitas koridor habitat, pengurangan interaksi negatif manusia-gajah hingga 70%, serta penghentian ancaman perburuan liar. Pendekatan holistik ini diharapkan tidak hanya menstabilkan dan meningkatkan populasi gajah di alam, tetapi juga menjamin keharmonisan serta kesejahteraan hidup antara masyarakat lokal dan lingkungan sekitarnya.

Dalam opening speech-nya, Dekan Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan, Prof. Dr. Sri Setyaningsih, M.Si., berharap bahwa BLS Eps.16 ini dapat menjadi wadah bagi semua pihak untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, serta gagasan baru tentang inovasi dan solusi untuk mencapai koeksistensi manusia dan gajah sumatra. “Kami berterima kasih kepada Belantara Foundation dan mitra lainnya, yang telah mendukung penuh acara ini sehingga berjalan dengan lancar dan sukses. Semoga BLS Eps.16 ini membawa manfaat besar bagi upaya perlindungan dan pengelolaan keanekaragaman hayati secara adil dan berkelanjutan di Indonesia”, pungkasnya.
Kegiatan ini juga dihadiri oleh Keynote Speaker lainnya, yaitu Rektor Universitas Pakuan, Prof. Dr. rer.pol. Ir. Didik Notosudjono, M.Sc., IPU, Asean Eng.; Regional Coordinator, Species and Habitats at the IUCN Asia Regional Office-Bangkok, Alex McWilliam serta narasumber yang memiliki pengalaman dalam upaya mencapai koeksistensi manusia-gajah secara berturut-turut yaitu Landscape Manager Way Kambas WCS-IP, Sugiyo dan Founder and Secretary General of Aaranyak-India, Dr. Bibhab Kumar Talukdar. Acara BLS Eps.16 ini dipandu oleh Pemimpin Redaksi Majalah Trubus (2020-2023), Sardi Duryatmo.

Tentang Belantara Foundation
Belantara Foundation adalah organisasi nirlaba independen berbasis di Indonesia yang didirikan pada tahun 2014. Belantara memainkan peran penting dalam konservasi lingkungan, restorasi hutan, konservasi satwa liar, dan pengembangan masyarakat berkelanjutan di seluruh Indonesia, khususnya di Sumatra dan Kalimantan. Misi Belantara adalah untuk mendukung pengelolaan lanskap berkelanjutan, mencapai keseimbangan antara pembangunan ekonomi jangka panjang, meningkatkan penghidupan masyarakat lokal, dan melindungi lingkungan. Pada bulan November 2024, Belantara menjadi Anggota International Union for Conservation of Nature (IUCN). Informasi lebih lengkap mengenai Belantara Foundation dapat dilihat di www.belantara.or.id.(*)